Tuesday, September 6, 2016

Psikologi Keterikatan


Hasil gambar untuk psikologi keterkaitan

Flow memiliki beberapa karakteristik, yaitu:
  1. a challenging activity that requires skills, dimana manusia merasa memiliki pengalaman menyenangkan yang luar biasa; 
  2. the merging of action and awarenes yang berarti kemampuan seseorang dibutuhkan untuk mengatasi suatu situasi dan perhatian seseorang akan benar-benar melebur ke dalam aktivitas yang sedang dikerjakannya; 
  3. clear goals and feedback dimana keterlibatan penuh dengan flow experiences yang biasanya memiliki tujuan jelas dan melakukan feedback; 
  4. concentration on the task at hand dimana fakta bahwa aktivitas yang menyenangkan membutuhkan fokus yang tertuju pada tugas-tugas yang sedang ditanggung, sehingga dalam pikiran manusia tidak ada ruang yang tersisa untuk informasi-informasi yang tidak relevan dengan tugas-tugas tersebut; 
  5. the paradox of control dimana manusia terlibat dengan perasaan untuk melakukan kontrol dan merasa tidak khawatir jika tidak dapat melakukan kontrol pada situasisituasi yang dihadapinya; 
  6. the loss of selfconsciousness dimana manusia menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan diri sendiri, namun juga dapat tidak memikirkan tentang diri sendiri hanya karena berkonsentrasi penuh dan terlibat dengan aktivitasnya; dan 
  7. the transformation of time yang pada umumnya optimal experience didefinisikan bahwa manusia dapat melampaui waktu dengan terasa lebih cepat dari yang sebenarnya terjadi, dengan kata lain manusia kehilangan kesadaran akan waktu (Csikszenmihalyi, 1990). 
Flow memiliki aktivitas untuk dapat berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Aktivitas flow dapat mengubah cara seseorang untuk memandang realitas yang menyenangkan dan fakta umtuk memperluas kesadaran. Cara pandang yang diubah membuat seseorang berpikir dan merasa lebih dari apa yang sebenarnya ia punya. Hal tersebut yang membuat sebuah flow dapat berkembang. Dalam perkembangannya, flow memiliki hubungan yang erat dengan budaya. Budaya memiliki peran dalam mengevaluasi flow. Setiap negara memiliki budaya yang berbeda, perbedaan tersebut mempengaruhi cara berpikir seseorang sehingga dapat menghasilkan pemikiran yang baru. Budaya juga menciptakan konteks dimana flow relatif mudah untuk dicapai melalui sesuatu yang tidak disengaja. Budaya merupakan konstruksi terhadap kekacauan yang dirancang untuk mengurangi dampak dari keberagaman pengalaman (Csikszenmihalyi, 1990). 

Teori Optimisme (Dispotional Optimism dan Explanatory Style) Optimis adalah orang yang mengharapkan sesuatu yang baik akan terjadi padanya. Expectancy value model atau teori dispositional optimism terbentuk karena adanya asumsi bahwa perilaku akan terorganisasi seiring dengan keinginan mencapai tujuan. Orang-orang akan mencoba untuk menyesuaikan perilakunya dalam mencapai tujuan dengan melihat keuntungan dan kerugian dari tindakannya. Hal yang paling penting dari tujuan adalah seberapa besar nilai dari tujuan itu sendiri karena hal itu dapat menjadi motivasi bagi seseorang untuk mencapainya. Untuk mencapai tujuan, seseorang perlu memiliki rasa percaya diri karena jika seseorang tersebut ragu maka akan melemahkan usahanya sebelum betindak atau pada saat berlangsung. Sedangkan, explanatory style tidak membahas tentang mengapa masalah itu terjadi tetapi lebih menekankan bagaimana cara menanggapi resiko dari munculnya dispositional yang terjadi pada pengalaman masa lalu (Snyder, 2002). Harapan merefleksikan keyakinan individu untuk dapat menemukan suatu cara dalam meraih tujuan dan memotivasinya untuk melakukannya. 

Harapan sebagai persepsi individu dalam mendefinisikan tujuan dengan jelas terhadap apa yang ingin dicapai. Teori harapan memiliki beberapa komponen (Snyder, 2002), yaitu Goals, Pathways Thinking, Agentic Thinking, serta Kombinasi antara Pathways Thinking dan Agentic Thinking. Goal atau tujuan sebagai target dari tindakan mental yang menghasilkan komponen kognitif. Tujuan dapat berupa jangka pendek atau jangka panjang, namun tujuan harus dapat memiliki sebuah nilai yang cukup, karena tujuan itu sendiri memiliki kemungkinan untuk dapat dicapai, namun juga memiliki beberapa ketidakpastian. Pathways Thinking itu sendiri merupakan pemikiran terhadap kemampuan untuk menghasilkan satu cara atau lebih agar dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai. Agentic thinking sebagai kapasitas motivasi individu untuk menggunakan suatu cara dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Agentic thinking merefleksikan persepsi individu bahwa ia dapat mencapai tujuannya dengan menggunakan cara-cara yang dipikirkannya. Kombinasi Pathways Thinking dan Agentic Thinking saling melengkapi, keduanya memiliki hubungan yang penting dalam mencapai tujuan yang dinginkan. 

Resiliensi adalah kemampuan beradaptasi dalam keadaan yang sulit (Snyder, 2002). Hal-hal yang dapat meningkatkan resiliensi misalnya adalah harapan dan optimisme. Individu yang memiliki harapan tinggi akan cenderung mengejar harapan dan tujuannya ketika menghadapi suatu hambatan dalam mencapai tujuan. Individu yang optimis memiliki cara berpikir yang positif dalam menghadapi permasalahan dalam hidupnya, ia akan optimis dalam mengejar tujuannya sehingga dapat menghadapi situasi sulit dalam hidupnya.



Sumber:
Tugas Psikologi Humanistik Unair 2013 
Schneider, K. J., Burgental, J. F. T. & Pierson, J. F. (2001). The Handbook of Humanistic Psychology. California: Sage Publication, inc.



No comments:

Post a Comment