
McCrae dan Costa (1999, dalam Pervin, 2005)
menunjukkan bahwa detil untuk menjelaskan hal tersebut ditinjau dari pendekatan
teori kepribadian yang lain. Pertanyaan yang tidak terjawab ini merupakan limitasi
yang signifikan dari teori ini.
Kedua, adalah dua karakteristik unik dari teori five-factor, yaitu ide bahwa trait
tidak dipengaruhi oleh faktor sosial. Masalahnya adalah ada beberapa hasil penelitian
yang menunjukkan kontradiksi dengan ide dari teori tersebut. Terutama, data yang
menarik yang berasal dari analisis tentang perubahan „skor‟ dari trait kepribadian
yang berasal dari observasi selama periode waktu tertentu. Twenge (2002, dalam
Pervin, 2005) beralasan bahwa perubahan budaya yang terjadi pada abad ke 20 dapat
menyebabkan perubahan dalam kepribadian. Perubahan yang terjadi di Amerika
Serikat pada pertengahan abad ke 20 dan akhir abad ke 20. Dibandingkan dengan
tahun 1950 an, maka pada tahun 1990 an manusia berada dalam suatu budaya dengan
angka perceraian yang lebih tinggi, angka kejahatan yang lebih tinggi, ukuran
keluarga yang lebih kecil, dan kontak yang lebih sedikit dengan keluarga besar.
Dalam perubahan sosiobudaya ini, Twenge menemukan bahwa hal ini berkaitan
dengan derajat kecemasan yang lebih tinggi. Dengan memeriksa skor mean-level pada
kecemasan dan skala neuroticism dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun
1950 an sampai 1990 an, Twenge dapat memperlihatkan bahwa kecemasan bertambah
secara signifikan selama periode ini. Dia juga menemukan adanya pertambahan yang
signifikan dalam extraversion selama dekade pada abad ke 20, hal ini mungkin
merefleksikan masyarakat Amerika yang lebih bertambah dalam individualism dan
asertivitas pribadi (Twenge, 2002, dalam Pervin, 2005).
Ke tiga, adalah, teori five-factor menegaskan bahwa semua manusia memiliki ke
lima faktor tersebut. Semua individu memiliki struktur psikologis yang berhubungan
dengan masing-masing faktor, dengan perbedaan dalam variasi derajat dari masingmasing
trait.
The big five personality mengungkapkan bahwa individu memiliki kelima trait hanya bervariasi dalam derajatnya. Kelima trait tersebut adalah, pertama, neuroticism (N) merujuk pada adjustment vs emotional instability, yaitu mengidentifikasikan kecenderungan indvidu untuk mengalami distress psikis, ide-ide yang tidak realistik, menginginkan sesuatu secara eksesif, dan coping respon yang maladaptive. Kedua, adalah extraversion (E), merujuk pada kuantitas dan intersitas interaksi personal, tingkat aktivitas, kebutuhan akan stimulasi, kapasitas untuk mendapatkan kesenangan. Ketiga,openness (O) yaitu proaktif mencari dan menghargai pengalaman karena keinginannya sendiri, toleran dan melakukan eksplorasi terhadap sesuatu yang belum dikenal. Keempat, adalah agreeableness (A) merujuk pada kualitas orientasi interpersonal seseorang dimulai dari perasaan peduli sampai dengan perasaan permusuhan dalam pikiran, perasaan, dan tindakan. Kelima, conscientiousness (C), yaitu derajat keteraturan individu, tekun, dan motivasi yang berorientasi pada tujuan.
Secara lebih rinci, the big five personality akan diuraikan pada masing-masing trait:
2. Extraversion (E), merujuk pada kuantitas dan intersitas interaksi personal, tingkat aktivitas, kebutuhan akan stimulasi, kapasitas untuk mendapatkan kesenangan. Faset dari extraversion dapat dibagi ke dalam tiga interpersonal dan tiga temperamental trait. Kehangatan, atau kelekatan, merujuk pada sikap yang ramah, bersahabat, dan interaksi personal yang meliputi gaya relasi yang intim. Berlawanan dengan individu yang dingin yang mungkin lebih formal dan impersonal dalam berelasi, lemah dalam kelekatan. Kehangatan dan suka hidup berkelompok membuat mereka disebut sosiabilitas. Asertivitas merupakan faset ketiga dari extravertion; orang yang asertif adalah pemimpin yang alamiah, mudah memerintah, mengungkapkan apa yan ada dalam pikirannya, dan mudah mengekspresikan perasaan dan keinginannya. Ketiga faset lainnya, disebut dengan temperamental, yaitu aktivitas, mencari kesenangan, dan emosi yang positif. Orang yang ekstover senang dengan kesibukan, bertindak dengan penuh semangat, dan berbicara cepat; mereka penuh energi dan kuat. Mereka pun lebih menyukai lingkungan yang menstimulasi mereka, seringkali mereka mencari kegembiraan. Keseluruhan disposisi ini bersinergi, bekerja bersama-sama untuk membentuk sindrom kepribadian. Aktivitas membawa kegembiraan dan kegembiraan membawa kebahagiaan. Orang yang bahagia mudah bergaul, dan selanjutnya menemukan kecocokan dengan orang lain yang memudahkan mereka untuk menjadi pemimpin.
4. Agreeableness (A) merujuk pada kualitas orientasi interpersonal seseorang dimulai dari perasaan peduli sampai dengan perasaan permusuhan dalam pikiran, perasaan, dan tindakan. Orang yang agreeable mempercayai orang lain, percaya hal terbaik dari orang lain, dan jarang mencurigai adanya tujuan yang tersembunyi. Mereka mempercayai orang lain, sehingga mereka melihat diri mereka pun sebagai orang yang dapat dipercaya, yang ditandai dengan keterusterangan mereka. Mereka pun ingin menolong orang lain, yang disebut dengan altruism. Individu yang agreeable adalah orang yang penurut, mereka akan menunda keinginanya apabila dihambat daripada bertindak agresif, faset ini disebut compliance. Selain itu, mereka pun rendah hati dan sopan. Nilai yang rendah untuk faset ini dapat dilihat sebagai orang yang narsistik. Secara sikap, orang yang agreeable memperlihatkan kelembuatan hati yang mudah tersentuh terhadap penderitaan orang lain.
5. Conscientiousness (C), yaitu derajat keteraturan individu, tekun, dan motivasi yang berorientasi pada tujuan. Orang yang conscientiousness merupakan orang yang rasional, berpusat pada informasi, dan secara umum berpikir bahwa mereka adalah orang yang kompeten. Bagian dari kesuksesan mereka merupakan hasil dari keteraturan dan keurutan, yangmembuat mereka efisien dalam bekerja. Mereka sangat berpusat pada tugas/kewajiban. Mereka tinggi dalam pencapaian prestasi, mengejar keunggulan dalam setiap hal yang mereka lakukan, mereka pun memiliki disiplin tinggi yang membuat mereka dapat mencapai tujuannya. Terakhir, mereka dicirikan dengan deliberation, yaitu membuat rencana yang canggih dan memikirkannya dengan hati-hati sebelum bertindak.
Sumber:
Feist, J, Feist, G. J. (2009). Theories of Personality, Seventh Edition. McGraw Hill
Education.
Ingersoll, G. M. (1989). Adoloscents. Second edition. Prentice-Hall, Inc.
McCrae, R. R. Costa, P. T. Jr. (May 1997). Personality Trait Structure as a Human
Universal. American Psychologist. In the pubic domain. Vol. 52, No. 5, 509-
516.
---------------------------------------------------- (2003). Personality in Adulthood, A FiveFactor
Theory Perspective. The Guilford Press.
Santrock, J W. (1998). Adolescenc. Seventh Edition. McGraw-Hill Companies. Inc
Steinberg. L. (1993). Adolescence. Third Edition. McGraw-Hill, Inc.
No comments:
Post a Comment