Pengertian Depresi
Kita pasti pernah mengalami suatu periode kesedihan. Merasa sedih yang mendalam, menangis, kehilangan perasaan tertarik pada suatu hal, kesulitan untuk berkonsentrasi, bahkan memikirkan untuk bunuh diri. Tetapi perasaan tersebut akan hilang dengan cepat dan tidak sampai menggangu aktivitas kita sehari-hari. Hal ini tidak berlaku bagi mereka yang mengalami depresi. Kesedihan yang mereka rasakan akan berlangsung lama, dan mengganggu aktivitas mereka sehari-hari. Sampai saat ini belum ada kata yang tepat untuk menjelaskan arti dari depresi. Istilah dan kata yang identik maknanya dengan depresi dalam bahasa Indonesia sehari-hari tidak ada (Lubis,2009). Kata-kata seperti sedih dan putus asa juga belum dianggap dapat mendefinisikan kata depresi dengan tepat.
Atkinson (1991) mengatakan bahwa depresi merupakan sebuah gangguan mood yang dicirikan dengan tidak adanya harapan, ketidakberdayaan yang berlebihan, tidak mampu mengambil keputusan untuk memulai suatu kegiatan, tidak mampu berkonsentrasi, tidak memiliki semangat hidup, dan mencoba untuk bunuh diri. Dr. Jonatan Trisna (http://pmkt-ugm.tripod.com/) menyimpulkan bahwa depresi merupakan suatu perasaan sendu ataupun sedih yang biasanya disertai dengan diperlambatnya gerak serta fungsi tubuh.
Depresi juga merupakan gangguan mood. Mood disini menggambarkan serangkaian perasaan yang menggambarkan kenyamanan atau ketidaknyamanan emosi. Terkadang, mood juga diartikan sebagai emosi yang bertahan lama yang mewarnai kehidupan dan keadaan kejiwaan seseorang. Mood berbeda dengan emosi. Emosi biasanya berlangsung sementara. Sedangkan mood merupakan perpanjangan dari emosi, mood berlangsung selama beberapa waktu, jam, hari, bahkan bulan. (Lubis,2009).

Dari berbagai definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa depresi merupakan suatu keadaan abnormal pada seseorang yang ditandai dengan adanya perubahan mood, pesimistik, penurunan aktivitas motorik, motivasi, pola pikir, serta adanya perubahan vegetative seperti insomnia dan kehilangan libido.
Tipe Depresi
Terdapat dua tipe dalam depresi, yaitu Major Depressive Disorder, yang merupakan tingkat depresi parah, dan Dysthymic Disorder (Dysthimia), yaitu depresi ringan.
a. Major Depressive Disorder (MDD)
Menurut APA, individu yang mengalami Major Depressive Disorder akan merasakan sedih, tidak berguna, atau kehilangan semangat terhadap kehidupannya sehari-hari, dan perasaan itu terjadi selama 2 minggu. Orang dengan MDD juga kehilangan selera makan mereka, kehilangan berat badan, memiliki masalah dalam tidur atau tidur terlalu banyak, dan terguncang secara fisik atau yang paling parah mereka akan menunjukkan aktivitas motorik yang menurun. MDD ini dialami sebagian besar oleh wanita yaitu sebesar 20%, sedangkan pria hanya 10% (Conway et al. 2006.). Major Depression biasanya akan diikuti oleh ciri khas psikotik, seperti halusinasi, mendengar suara-suara yang menyalahkan mereka karena perbuatan buruk yang telah mereka lakukan.
Studi yang dilakukan di amerika dan eropa mengindikasikan bahwa prevelensi MDD yang ada di lansia ada pada rentang 1-5%. Rentang tersebut masih lebih kecil daripada MDD yang di derita orang yang berusia dewasa tengah. Prevelensi wanita yang mengalami MDD juga dua kali lebih besar daripada laki-laki, tetapi studi yang dilakukan oleh Andrede (2003) mengatakan bahwa kecenderungan depresi yang dimiliki oleh pria ataupun wanita sama saja menjelang usia tua. (hal ini dikarenakan biasanya permulaan depresi berawal pada usia muda dan ketika tua, mereka dapat mengatasi gejala-gejala tersebut).
b. Dysthymic Disorder (Dysthimia)
Individu dengan dysthymic disorder juga merasakan kesedihan seperti individu dengan Major Depressive Disorder, tetapi tidak terlalu parah. Dystimia yang mereka alami cukup mengganggu dan bertahan hingga menahun. Merasa depresi dan bermasalah dalam kehidupan sosial akan berlanjut meskipun individu tersebut sudah mengalami masa penyembuhan. Friedman (2002) mengatakan bahwa 90% orang dengan dysthimia akan berkembang menjadi major depression. Dysthimia ini juga benyak terjadi pada wanita daripada pria. Meskipun dysthimia termasuk depresi yang ringan, bukan berarti orang yang mengalami tidak terganggu kehidupan sehari-harinya. Suasana hati yang tertekan dan rendahnya self-esteem dapat mengakibatkan pekerjaan dan fungsi sosial individu tersebut terganggu.
Faktor Penyebab Depresi
a. Stres dan Depresi
b. Teori Psikodinamika
Dalam teori psikodinamika, depresi dipandang sebagai kemarahan yang ditekan secara langsung ke dalam diri individu (inward-directed anger). Mneurut Freud, depresi merupakan reaksi kompleks terhadap kehilangan seseorang yang dicintai. Individu yang mengalami depresi mengalami low self-esteem yang luar biasa dan mengalami kemiskinan ego pada skala yang besar.
c. Teori Humanistik
Teori ini mengatakan penyebab depresi dikarenakan oleh pantulan dari kurangnya arti dan keaslian pada hidup individu. Hilangnya harga diri seperti kehilangan kekuasaan dan status sosial menurut teori ini dapat menyebabakan individu mengalami depresi. Teori ini juga mengatakan jika terjadi perbedaan yang terlalu besar antara ideal self serta real self seseorang juga dapat menyebabkan depresi.
d. Teori Belajar
Teori ini menjelaskan depresi dengan berfokus pada faktor situasional seperti perubahan level pada reinforcement. Ketika reinforcement dikurangi, individu mungkin akan tidak termotivasi dan menjadi depresi.
e. Teori Kognitif
Teori ini menyatakan bahwa seseorang yang berpikiran negatif tentang dirinya akan menelusuri lebih lanjut bahwa mereka melakukan interpretasi yang salah dan menyimpang dari realita. Salah satu teori kognitif mengenai depresi dijelaskan oleh Aaron T Beck.
Gejala Depresi
Arti gejala menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia adalah tanda-tanda akan hadirnya sesuatu. Seseorang yang mengalami depresi biasanya akan menunjukkan gejala-gejala yang khas. Gejala-gejala yang kerapkali muncul adalah murung, sedih yang berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilangnya semangat untuk melakukan sesuatu, dan susah untuk berkonsentrasi.
Beck membuat kategori gejala depresi menjadi: simptom emosional, kognitif, motivasional, dan fisik. Gejala-gejala Beck tersebut adalah:
Simptom emosional merupakan sebuah perasaan atau tingkah laku yang merupakan akibat langsung dari keadan emosi. Beck menyebutkan manifestasi emosional yang terjadi pada orang dengan symptom depresi seperti penurunan mood, pandangan negatif terhadap diri sendiri, tidak lagi merasakan kepuasan, menangis, hilangnya respon yang menggembirakan.
Penurunan mood merupakan sebuah ciri yang paling umum dari simptom emosional. Penurunan mood ini terjadi apabila seseorang merasa sedih yang berlebihan atau mengalami dysphoria. Perasaan-perasaan negatif seperti “saya tidak berharga, saya lemah, saya tidak berdaya” juga terjadi pada seseorang yang mengalami depresi. Hilangnya kepuasan berangkat dari penurunan aktivitas, seiring peningkatan dari depresi yang dialami oleh orang tersebut. Kegiatan yang menyangkut tugas serta tanggung jawab menjadi kurang memuaskan, sebaliknya aktivitas pasif seperti tidur, santai, istirahat member suatu kepuasan lebih.
Hilangnya emosi kasih sayang kepada orang lain. Perasaan peduli kepada orang lain tiba-tiba berubah dan menjadi apatis, acuh tak acuh. Hilangnya respon yang menggembirakan ini memiliki arti hilangnya kemampuan menangkap informasi yang berisikan humor. Mendengar lelucon bukan merupakan sesuatu yang dianggap menghibur, tetapi cenderung dilihat secara serius bahkan dapat menimbulkan respon tersinggung.
b. Simptom Kognitif
Beck (1967) menyebut manifestasi kognitifnya antara lain penilaian diri yang rendah harapan-harapa yang negatif, menyalahkan serta mengkritik diri sendiri, dan tidak dapat membuat keputusan. Penilaian diri yang rendah terjadi ketika seseorang memandang penampilan, kesehatan, penghasilan, serta popularitasnya secara rendah. Harapan-harapan negatif termasuk di dalamnya mengharapkan hal-hal yang buruk terjadi pada dirinya serta menolak kemungkinan adanya perbaikan dan perubahan menuju hal yang lebih baik.
Menyalahkan dan mengkritik diri sendiri berkaitan dengan anggapan bahwa hal-hal yang kurang menguntungkan atau kejadian buruk yang menimpanya dikarenakan adanya kekurangan yang ada pada dirinya. Seseorang yang mengalami depresi juga terkadang menyalahkan dirinya sendiri terhadap kejadian-kejadian yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Kesulitan mengambil keputusan terjadi apabila seseorang memiliki keraguan antara alternatif-alterntif yang ada. Seseorang yang mengalami simptom depresi kurang memiliki motivasi sehingga ia menganggap bahwa membuat satu keputusan merupakan suatu beban baginya. Hal ini lah yang membuatnya tidak dapat mengambil keputusan dengan cepat dan ragu-ragu.
c. Simptom Motivasional
Hilangnya motivasi dijumpai 65-86% dari penderita depresi. Penderita depresi memiliki masalah besar dalam menggerakkan dirinya untuk menjalankan aktivitas-aktivitas yang paling dasar seperti makan, minum, dan buang air. Ia tahu apa yang harus ia lakukan tetapi ia tidak ada memiliki kemauan untuk melaksanakannya. Keinginan menghindar dari tugas sehari-hari, lebih sering melamun adalah gejala lain dari motivasi. Hal tersebut membuat seseorang lebih tertarik pada kegiatan pasif seperti menonton tv, berdiam diri di kamar, dan tidur-tiduran di kamar.
Meskipun tanda-tanda tersebut juga ditemukan pada individu yang nondepresi, orang yang depresi memiliki frekuensi yang lebih sering. Simptom motivasional yang lain adalah peningkatan ketergantungan terhadap orang lain. Beck (1967) mendefinisikannya sebagai dependensi. Dependensi adalah sebuah keinginan untuk memperoleh pertolongan, petunjuk, pengarahan dari orang lain, daripada melakukannya sendiri.
d. Simptom Fisik
Simptom fisik yang biasanya dijumpai pada mereka yang memiliki simptom depresi adalah hilangan nafsu makan, gangguan tidur, dan mudah merasa lelah setelah melakukan sesuatu. Mengenai gangguan tidur, para ahli telah memperoleh bukti-bukti kuat berdasarkan observasi langsung dan rekaman EEG sepanjang malam, bahwa penderita depresi mengalami kurang tidur.
Hilangnya nafsu makan juga terjadi pada orang yang mengalami depresi, tetapi tanda ini merupakan tanda awal depresi. Sebanyak 79% penderita depresi mengalami hilangnya nafsu makan. Mudah lelah juga diderita orang yang mengalami depresi, seperti anggota badan yang terasa berat
DAFTAR PUSTAKA
Ilardi, S. S. (2009). The Depression Cure: The 6-Step Program to Beat Depression without Drugs . United States of America: Da Capo Press.
Katon, W., Ludman, E., & Simon, G. (2008). The Depression Helpbook (2nd Edition ed.). Colorado: Bull Publishing Company.
Klein, D. F., & Wender, P. H. Understanding Depression: A Complete Guide to Its Diagnosis and Treatment. Oxford University Press.
Lubis, N. L. (2009). Depresi "Tinjauan Psikologis". Jakarta: Prenada Media Grup.
Nevid, J. S., Rathus, S. A., & Greene, B. (2008). Abnormal Psychology In Changing World (7th ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc.
Zarit, S. H., & Zarit, J. M. (2007). Mental Disorders in Older Adults (2nd ed.). New York: The Guilford Press.