Gambaran diri seseorang biasanya tercermin dalam self esteem. Self esteem adalah suatu konsep dimana seseorang dapat menerima keadaan atau kondisi yang ada dalam dirinya saat ini dan berpikir bahwa dirinya itu adalah seseorang yang layak untuk dipertimbangkan atau bersaing dengan orang lain. Self esteem sama seperti identitas ego yang dimiliki oleh manusia, cenderung bersifat menetap dan dapat berbeda kadar ketika seseorang berada dalam peran yang berbeda pula.
Diantara pandangan terhadap diri tersebut, terselip ego ideal dimana menggambarkan bagaimana seharusnya saya memandang diri saya. Ego ideal adalah sosok yang yang diidolakan/ diinginkan agar bisa ada dalam diri seseorang. Jadi dipastikan bahwa seseorang akan berusahan untuk menjadi seperti sosok tersebut. Setiap orang akan memiliki ego idealnya masing-masing. Ego ideal merupakan salah satu peran penting dalam menggambarkan diri seseorang. Setiap orang pasti memiliki gambaran diri yang tercermin dalam karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik yang ditampilkan orang tersebut berasal dari peran yang dijalankannya. Sehingga gambaran diri seseorang juga dapat terlihat dari peran apa yang ia ambil di kehidupannya. Terdapat beberapa alasan mengapa seseorang menampilkan gambaran dirinya, baik yang sebenarnya maupun yang dimanipulasi, antara lain untuk kepentingan interaksi dengan orang lain, untuk tujuan profesional, atau untuk memastikan bahwa gambaran dirinya telah sesuai dengan keinginan orang lain.
Mayoritas orang menampilkan sisi ‘orang lain’ ketika bertemu atau berinteraksi dengan orang lain. Sisi ‘orang lain’ di sini merupakan bukan diri kita yang sebenarnya dan telah dimanipulasi. Sebaliknya, orang lain yang memandang kita tidak normal jarang memberikan respon yang negatif kepada kita. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan apresiasi terhadap diri kita yang sesungguhnya. Namun biasanya kita cenderung untuk tidak mau mendengarkan pendapat orang lain tersebut karena takut mendengar yang buruk-buruk tentang diri kita. Ketika seseorang telah kehilangan kepercayaan diri untuk menampilkan gambaran diri sesungguhnya biasanya mereka memilih untuk masuk pada kelompok yang dapat menerima gambaran diri mereka. Namun ketika seseorang itu tetap berada di kelompok yang tidak menerimanya, ia cenderung akan melakukan konformitas terhadap kelompoknya. Biasanya orang yang melakukan konformitas merupakan orang yang merasa inferior, kurang percaya diri dan ketergantungan kepada orang lain
Sumber:
Hayes, J. (2002). Interpersonal Skill: Goal directed behavior at work. London: Routledge – the taylor & Francis e-library.
Argyle, Michael. (1972). The Psychology of Interpersonal Behavior. London: Reading and Fakenham.